Merdeka!!!
Teriaklah dengan lantang!
Selantang teriakan Merdeka dari nyona berbaju merah di panggung sana!
Mungkin jauh lebih lantang.
Merdeka!
Ini Tanah Air kita
Tumpah darah kita
Tanah kita sewa air ada tagihannya
Merdeka(kah kita?)
Atau hanya sebatas fatamorgana?
Aseng asing melanglang buana
Tertawa terbahak bahak mengangkakingi 250 juta jiwa
Merdeka!!! Katanya
Duit kita masuk kantong mereka
Merdeka!!!! Teriak nya
Mari kita bangun ini bangsa
Tenang ada dananya
Tinggal kita pinjam saja...
Merdeka!!!
Tidak, Kita tidak merdeka
Ini masih penjajahan yang sama
Cuma kedok nya berbeda
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Agustus 2017
Rabu, 26 Oktober 2016
Northern Star
Callin' in the midnight
Still tryin' to fight
Don't 'know about my sight
Coz it's dark and i have no light
When you go up im down
Deep beneath the ocean the dark one
While you are a star the bright one
Then we cant be one
Well fuck then!
I'm here become no one while you are someone
Crashing in the sea bed become suffocate
You up there in the sky not the blue one, the dark one.
You are the brightest one,
The star, the northern one...
Still tryin' to fight
Don't 'know about my sight
Coz it's dark and i have no light
When you go up im down
Deep beneath the ocean the dark one
While you are a star the bright one
Then we cant be one
Well fuck then!
I'm here become no one while you are someone
Crashing in the sea bed become suffocate
You up there in the sky not the blue one, the dark one.
You are the brightest one,
The star, the northern one...
Senin, 01 Agustus 2016
Semalam, aku....
Bukankah dulu sudah jelas?
Semua perkara antara aku kau dan semua tentang kita?
Dulu....
Dulu sekali...
Lalu kenapa semalam kau datang?
Kita pergi berdua ke restoran yang sama kala itu.
Keluh mu masih sama, motorku
Terlalu tinggi katamu...
Aku duduk didepanmu,
Meja kecil di pojok restoran itu.
Senyummu, sama!
Persis sama dengan waktu itu
Tak ada yang berbeda.
Kita jalan berdua, sebuah bioskop yang dulu tak ada dalam kenangan ku.
Disana kau rebah di bahuku,
Peluk hangat mu terasa hangat di tanganku...
Semua perkara antara aku kau dan semua tentang kita?
Dulu....
Dulu sekali...
Lalu kenapa semalam kau datang?
Kita pergi berdua ke restoran yang sama kala itu.
Keluh mu masih sama, motorku
Terlalu tinggi katamu...
Aku duduk didepanmu,
Meja kecil di pojok restoran itu.
Senyummu, sama!
Persis sama dengan waktu itu
Tak ada yang berbeda.
Kita jalan berdua, sebuah bioskop yang dulu tak ada dalam kenangan ku.
Disana kau rebah di bahuku,
Peluk hangat mu terasa hangat di tanganku...
Mungkin hanya kau yang merindu bung!
Aeh???
Rindu?
Tidak lah bung.
Sudah lama sudah berlalu
Mungkin dia bahagia
Dan aku bahagia
Kami sama sama bahagia...
Lupakan lah,
Mungkin hanya kenangan yang minta diingat bung...
Mungkin....
Rindu?
Tidak lah bung.
Sudah lama sudah berlalu
Mungkin dia bahagia
Dan aku bahagia
Kami sama sama bahagia...
Lupakan lah,
Mungkin hanya kenangan yang minta diingat bung...
Mungkin....
Jumat, 06 Mei 2016
Just me, a......
A laughter a sinner not a priest
Not a murder neither a killer
Just me a lover
To you all of me
Down to the earth not to the top of the sky
The blue one
You got that?
I do fall in love just to feel all the symphony
Not a melody neither my memory
Just me in to you
I describe my self into you
To the feeling that i feel about you
Right now this time not yesterday neither tomorrow
Just me a lover
To you all of me
Down to the earth not to the top of the sky
The blue one
You got that?
I do fall in love just to feel all the symphony
Not a melody neither my memory
Just me in to you
I describe my self into you
To the feeling that i feel about you
Right now this time not yesterday neither tomorrow
Kamis, 28 April 2016
Senin, 11 April 2016
Negeri DU(S)TA
Yang menghina yang di puja
Iya, selamat datang di Endonesia
Iya, selamat datang di Endonesia
Karena menyebut "I" itu terlalu sulit bagi lidah kita
Yang menghina yang dipuja lalu diangkat menjadi duta.
Padahal itu lambang negara
Padahal itu harga diri kita
Dulu, Para pemimpin bersidang rapat berhari hari
Bertukar konsep pendapat silih berganti
Akhirnya pancasila menjadi jati diri
Lalu, muncul sesosok artis populer di TV
Lewat acara yang tak mendidik sama sekali
Yang ada hanya banyolan banyolan haha hihi
Eh ditanya pancasila
Jawabnya bercanda
Ditayangkan LIVE seluruh Endonesia
Sehat pak Mentri?
Kalau terus begini
Efek jera hanya tinggal mimpi!
Mungkin nanti, esok atau lusa,
Akan ada penghina penghina lainnya
Terus bermunculan jutaan DUTA
Yang menghina yang dipuja lalu diangkat menjadi duta.
Padahal itu lambang negara
Padahal itu harga diri kita
Dulu, Para pemimpin bersidang rapat berhari hari
Bertukar konsep pendapat silih berganti
Akhirnya pancasila menjadi jati diri
Lalu, muncul sesosok artis populer di TV
Lewat acara yang tak mendidik sama sekali
Yang ada hanya banyolan banyolan haha hihi
Eh ditanya pancasila
Jawabnya bercanda
Ditayangkan LIVE seluruh Endonesia
Sehat pak Mentri?
Kalau terus begini
Efek jera hanya tinggal mimpi!
Mungkin nanti, esok atau lusa,
Akan ada penghina penghina lainnya
Terus bermunculan jutaan DUTA
Jumat, 18 September 2015
Antara Aku Kau dan Dia
Sungguh lah
Sungguh!!!
Aku cinta kau cinta
Cintaku akan kau
Cinta kau akan dia
Sungguh!!!
Kenapa kau tak cinta ku sedang aku cinta kau?
Kenapa?
Ah Aku cinta kau kau tak cinta ku tapi kau cinta dia
Patah Hatiku!!!
Kenapa kau tak cinta ku sedang ku cinta kau?
Patah hati dia...
Jangan jangan aku cinta kau kau cinta dia sedang dia cinta aku?
Ah mampus!!! Bencong laknat!!!
Sungguh!!!
Aku cinta kau cinta
Cintaku akan kau
Cinta kau akan dia
Sungguh!!!
Kenapa kau tak cinta ku sedang aku cinta kau?
Kenapa?
Ah Aku cinta kau kau tak cinta ku tapi kau cinta dia
Patah Hatiku!!!
Kenapa kau tak cinta ku sedang ku cinta kau?
Patah hati dia...
Jangan jangan aku cinta kau kau cinta dia sedang dia cinta aku?
Ah mampus!!! Bencong laknat!!!
Jumat, 28 Agustus 2015
Remember I Remember (By The End Of September)
I remember i remember in the wet rain of September
I still remember the time when we still together
Remember remember how close we were
I remember i remember
Remember i remember
It was you standing down there
I was coming below the rain of September
Believing it was you what i need to care
Remember I remember
That sweet September
The rain wont stop me for ever...
Now i remember..
The nightmare by the end of September
You kill me here then break me there
I Remember i remember by the end of September
Below the rain of September
Here comes the nightmare
I still remember the time when we still together
Remember remember how close we were
I remember i remember
Remember i remember
It was you standing down there
I was coming below the rain of September
Believing it was you what i need to care
Remember I remember
That sweet September
The rain wont stop me for ever...
Now i remember..
The nightmare by the end of September
You kill me here then break me there
I Remember i remember by the end of September
Below the rain of September
Here comes the nightmare
Selasa, 06 Januari 2015
Babang Dedek
Selamat pagi, dek!
Ahhh kenapa dedek datang ke dalam mimpi babang?
Kan galau babang jadinya, dek!
Aduh dedek,
Tapi sayang sungguh sayang
Sayang babang udah dititip sama orang
Sayang babang buat orang tersayang,
Babang janji gak bakal bagi bagi itu sayang
Aduh dedek, senyummu itu dek,
Asssuuuuuuuu dahlah deeek
Percuma saja babang bicara sebab cinta tak untuk dedek
Cinta dedek pun tak mungkin sama babang
Siapa lah babang ni, sisa sisa peradaban sedangkan dedek peradaban maju
Ah apalah daya babang puing puing jaman batu sedang dedek era digital
Ahhh kenapa dedek datang ke dalam mimpi babang?
Kan galau babang jadinya, dek!
Aduh dedek,
Tapi sayang sungguh sayang
Sayang babang udah dititip sama orang
Sayang babang buat orang tersayang,
Babang janji gak bakal bagi bagi itu sayang
Aduh dedek, senyummu itu dek,
Asssuuuuuuuu dahlah deeek
Percuma saja babang bicara sebab cinta tak untuk dedek
Cinta dedek pun tak mungkin sama babang
Siapa lah babang ni, sisa sisa peradaban sedangkan dedek peradaban maju
Ah apalah daya babang puing puing jaman batu sedang dedek era digital
Kamis, 25 Desember 2014
Mimpi
Lagi...
Masih datang kau?
Bukan kah dulu pernah ada penghindaran dari mu?
Malam itu
Ah masih jelas dalam bayang ku tentang mimpi itu
Aku dengan sendiriku, duduk di meja kecil restoran itu
Iya, tempat aku sering mengajakmu dulu
Ah kenangan itu mendinginkan jiwa ku
Mampus aku kembali merindu...
Disitu,
Aku memesan 2 menu
Satu untukku dan satu entah untuk siapa, aku tak tau.
Yang aku tau, itu menu yang kau pilih dulu
Ah rasa apa ini, kita kan tak seperti waktu itu
Tapi, malam itu kau datang padaku
Duduk disampingku lalu diam membisu
Tak sama dengan kala itu kau di hadapanku lalu ku tatap dalam matamu
Tunggu, ini bukan kenangan masa itu...
Apakah aku masih merindu?
Eh kau bersandar dibahuku?
Ah bagun!!! Ini cuma mimpiku!!!
Masih datang kau?
Bukan kah dulu pernah ada penghindaran dari mu?
Malam itu
Ah masih jelas dalam bayang ku tentang mimpi itu
Aku dengan sendiriku, duduk di meja kecil restoran itu
Iya, tempat aku sering mengajakmu dulu
Ah kenangan itu mendinginkan jiwa ku
Mampus aku kembali merindu...
Disitu,
Aku memesan 2 menu
Satu untukku dan satu entah untuk siapa, aku tak tau.
Yang aku tau, itu menu yang kau pilih dulu
Ah rasa apa ini, kita kan tak seperti waktu itu
Tapi, malam itu kau datang padaku
Duduk disampingku lalu diam membisu
Tak sama dengan kala itu kau di hadapanku lalu ku tatap dalam matamu
Tunggu, ini bukan kenangan masa itu...
Apakah aku masih merindu?
Eh kau bersandar dibahuku?
Ah bagun!!! Ini cuma mimpiku!!!
Selasa, 28 Oktober 2014
Haruskah Aku Percaya? : Kami Tuntut Sumpah Kau
*Untuk Para Pemuda yang bertengger diatas sana
Haruskah aku percaya?Pada mulut mulut yang mengaku bertumpah darah satu?
Mulut mulut yang saling menumpahkan darah diatas tanah air yang satu?
Mulut mulut bejat yang bersumpah lalu meminum darah saudara yang menangis sendu?
Haruskah aku percaya?
Pada jiwa yang mengaku berbangsa yang satu?
Jiwa jiwa yang tak menghargai perbedaan yang menjadi penyatu?
Jiwa jiwa yang berperang menegakkan kepentingan si anu?
Jiwa jiwa penuh intrik politik golongan tertentu?
Haruskah ku percaya?
Pada lidah lidah yang mengaku menjunjung bahasa persatuan?
Lidah lidah yang tak mengerti arti pemohonan dalam bahasa Indonesia
Lidah lidah yang mengabaikan teriak serak dua ratus sekian juta rakyat menganga
Lidah lidah yang tak paham teriak serak kami dari dasar dunia
Lidah lidah yang tak mau mendengar teriak bahasa kami, bahasa indonesia
Makanya kami turun kejalan,
Karena kepercayaan kami akan sumpah telah terkhianati
Kami ikut bersumpah kau ikut bersumpah
Kami menjaga sumpah kau khianati kami dengan mimpi!!!
Kami tuntut sumpah kau!!!
Satu Tak Bersatu
Satu...
Aku satu kau satu kita sama satu
Satu hatiku satu hatimu
Namun tak bersatu
Aku jatuh padamu kau jatuh pada satu bukan satuku
Aku jatuh padamu dengan satuku
Jatuh satuku pada satumu
Namun satu ku tak kau balas satumu
Satumu jatuh bukan pada satuku
Aku jatuh padamu dengan satuku
Satuku tak kau balas dengan satumu
Satuku satumu namun tak bersatu
Aku satu kau satu kita sama satu
Satu hatiku satu hatimu
Namun tak bersatu
Aku jatuh padamu kau jatuh pada satu bukan satuku
Aku jatuh padamu dengan satuku
Jatuh satuku pada satumu
Namun satu ku tak kau balas satumu
Satumu jatuh bukan pada satuku
Aku jatuh padamu dengan satuku
Satuku tak kau balas dengan satumu
Satuku satumu namun tak bersatu
Itu Senyum Yang Ku Tunggu
Ahhhhh.....
Senyum...
Itu yang ku tunggu ku nanti dengan hati
Ku layangkan punyaku
Kau tersipu malu menunduk sambil sedikit tersenyum...
Tertusuk kau kena senyum ku...
Haha
Senyum mu itu yang ku tunggu
Ku nanti dengan sabar dalam mendung mentari jiwa
Ku jadikan seberkas cahaya harap kan hati yang terkurung gelap gulita
Itu senyum yang ku tunggu...
Senyum...
Itu yang ku tunggu ku nanti dengan hati
Ku layangkan punyaku
Kau tersipu malu menunduk sambil sedikit tersenyum...
Tertusuk kau kena senyum ku...
Haha
Senyum mu itu yang ku tunggu
Ku nanti dengan sabar dalam mendung mentari jiwa
Ku jadikan seberkas cahaya harap kan hati yang terkurung gelap gulita
Itu senyum yang ku tunggu...
Ku Halalkan Kau Untukku : Di Bawah Ridho Illahi
Ooohhh...
Barang mahal ternyata...
Barang suci terjada tak terjamah...
Tak tersentuh tangan serakah
Ini jiwa mengerti kini...
Ku ikat ini janji,
Ku sampaikan lewat puisi...
Kan ku jaga itu suci mu
Tak kan ku ku jamah tak ku noda
Cukup suatu hari nanti,
Ku minta kau pada ayahmu,
Ku ikat dengan cincin
Ku alas dengan sajadah...
Berjanji ku pada ayahmu
Didepan dua saksi
Ku halalkan kau untukku
Dibawah ridho Illahi
Barang mahal ternyata...
Barang suci terjada tak terjamah...
Tak tersentuh tangan serakah
Ini jiwa mengerti kini...
Ku ikat ini janji,
Ku sampaikan lewat puisi...
Kan ku jaga itu suci mu
Tak kan ku ku jamah tak ku noda
Cukup suatu hari nanti,
Ku minta kau pada ayahmu,
Ku ikat dengan cincin
Ku alas dengan sajadah...
Berjanji ku pada ayahmu
Didepan dua saksi
Ku halalkan kau untukku
Dibawah ridho Illahi
Bicara 4 Mata
Hey kau!!!
Sini!!!
Aku ingin bicara
Bicara empat mata
Aku dan kau
Hey kau!!!
Sini!!!
Aku tak sanggup lagi
Tak sanggup tahan ini lidah yang pendam kata
Tak sanggup tahan ini hati yang punya rasa
Dengarkan aku,
Ku bicara dari hatiku ke hatimu
Bicara blak blakan tanpa rahasia
Ku buka semua padamu!!!
Borok kudis kurap panu ku!!!
Yang penting kau tahu siapa aku,
Sini!!!
Aku ingin bicara
Bicara empat mata
Aku dan kau
Hey kau!!!
Sini!!!
Aku tak sanggup lagi
Tak sanggup tahan ini lidah yang pendam kata
Tak sanggup tahan ini hati yang punya rasa
Dengarkan aku,
Ku bicara dari hatiku ke hatimu
Bicara blak blakan tanpa rahasia
Ku buka semua padamu!!!
Borok kudis kurap panu ku!!!
Yang penting kau tahu siapa aku,
AU-AH!!! GELAP!!!
Siapa kau???
Bergerak dalam gelap bak kucing hitam tengah malam
Iringi lemah lunglai langkah lelahku
Coba tenang berjalan kau tanpa suara
Ku sadar hadirmu saat ranting berteriak derik patah terinjak langkah hati hatimu
Siapa kau???
Melangkah diam ikuti jejak jejak kaki
Ku intip ku lirik ku perhatikan
Tak terlihat kau tenggelam dalam gelap
Hilang bak bayangan menyusup dalam jauh dari cahaya
Ku diam kau diam
Ku melangkah kau melangkah ku dengar teriak serak ranting kau injak
Ku kejar kau hilang tanpa jejak menyelusup dalam gelap
Makin penasaran hati makin ku teliti
Ku coba temukan kau hilang melayang terbang
Sampai lelah raga ini tetap ku mencari
Dan....
Ku menyerah
Masih kau iringi aku melangkah kau dalam gelap
Hati ini bertanya tanya siapa disana
AU AH!!!!! GELAP!!!!!
Bergerak dalam gelap bak kucing hitam tengah malam
Iringi lemah lunglai langkah lelahku
Coba tenang berjalan kau tanpa suara
Ku sadar hadirmu saat ranting berteriak derik patah terinjak langkah hati hatimu
Siapa kau???
Melangkah diam ikuti jejak jejak kaki
Ku intip ku lirik ku perhatikan
Tak terlihat kau tenggelam dalam gelap
Hilang bak bayangan menyusup dalam jauh dari cahaya
Ku diam kau diam
Ku melangkah kau melangkah ku dengar teriak serak ranting kau injak
Ku kejar kau hilang tanpa jejak menyelusup dalam gelap
Makin penasaran hati makin ku teliti
Ku coba temukan kau hilang melayang terbang
Sampai lelah raga ini tetap ku mencari
Dan....
Ku menyerah
Masih kau iringi aku melangkah kau dalam gelap
Hati ini bertanya tanya siapa disana
AU AH!!!!! GELAP!!!!!
Aku Ke Kau Kau Ke Aku
Kau tanya yang benar?
Yang benar itu : Aku ke kau kau ke aku
Kau tanya bagaimana seharusnya?
Seharusnya : Aku ke kau kau ke aku
Kau tanya apa jawabku?
Jawabku : Aku ke kau kau ke aku
Aku ke kau kau ke aku kita satu
Aku cinta kau kau cintaku begitu seharusnya
Aku ke kau kau ke aku kita satu
Satu hati satu rasa satu cinta semua satu
Cintamu cintaku cinta kita
Cinta kita cintaku untuk kau
Cinta kita cinta kau untukku
Cinta kau ke aku cintaku ke kau
Kau minta penjelasan?
Penjelasannya : Aku mau kau aku ingin kau aku cinta kau!!!
Apa Kabar Pak???
*Hanya ingin berbicara pada pak dewan
Apa kabar pak???Bukankah anda adalah orang yang saya pilih dulu???
Wajah sok gagah yang saya coret dengan tinta merah,
Wajah yang "dicoret akbar" dalam pesta bernama PEMILU
Apa kabarmu kini???
Lama tak terdengar gaungmu...
Tenggelam dalam langkah liar kuda tunggangan
Terkurung dalam sangkar berwarna warni
Mana janjimu pak???
Puisi puisi sumpah serapah
Janji janji dan mimpi mimpi yang kau tawarkan
Kemana mereka pak???
Jangan marah dulu pak,
Aku tak minta pertanggung jawabanmu...
Pertanggung jawaban cukup pada yang kuasa...
Aku hanya bertanya kabar,
Aku hanya rindu dengarkan suara lantangmu
Suara yang dulu berjanji untuk rakyat
Suara yang dulu membuatku terpikat
Terpikat "mencoret" wajah bapak...
Biar Berganti Kita Saling Merindu
Jika sesirat penyerahanku kau anggap angin lalu,
Maka dengan matiku kubawakan hatiku padamu
Biar berganti kita saling merindu
Jika matiku buat kau percaya akan cinta ku
Maka ku bawakan mayatku kehadapmu
Biar berganti kita meneteskan air mata
Jika puisi ku tak kau dengar menjadi bahasa hatiku
Maka kutinggalkan seonggok puisi bersama bangkai ku
Biar mengerti kau sepinya kala ku tulis itu puisi
Jika sesirat penyerahanku kau anggap angin lalu,
Maka dengan matiku kubawakan hatiku padamu
Biar berganti kita saling merindu
Kabut: Aku di Dalamnya
Ah marah dia, sebentar lagi pasti mengamuk ini dunia...
Baru kentut saja dia, kalang kabut semua....
Doa dari semua penjuru Indonesia...
Iya, baru kentut lewat gunung saja, kalangkabut se Nusantara...
Sekarang dia bikin gelap ini dunia!!!!
Benar sekali dinda...
Gelapnya karena manusia,
Tapi ini cucian kok jadi bernoda?
Kabutnya turun, perih ini mata!!!
Lihat itu sang surya,
Tak lagi besinar gagah ia, Aku rindu teriknya!!!
Sekarang memerah buram, marah dia!!!
Tak lagi tajam pengamatannya,
Tapi perih pengacuhannya...
Aku yang tertikam karenanya....
Ah iya, Bagaimana kalau kita pakai hukum rimba?
Yang membakar kita tangkap kita aniaya, kita bakar pula dia...
Biar tau dia perihnya rusa dalam rimba,
Berlari demi nyawa diantara api yang membara....
Biar tau dia sakinya,
Sesakit anak elang menjadi abu di bekas pucuk cemara...
Ah, tapi ini Indonesia...
hukum rimba punya yang kaya,
Duit yang bicara....
Yang ditangkap cecunguk tak berdaya...
Pembakar kaya, ongkang kaki dia!
Duduk di kursi cendana!!!
Lah kita,
ah sudah lah... siapa kita?
Cucian saja terjebak debu dia,
Apa lagi mata, memerah dia....
Baru kentut saja dia, kalang kabut semua....
Doa dari semua penjuru Indonesia...
Iya, baru kentut lewat gunung saja, kalangkabut se Nusantara...
Sekarang dia bikin gelap ini dunia!!!!
Benar sekali dinda...
Gelapnya karena manusia,
Tapi ini cucian kok jadi bernoda?
Kabutnya turun, perih ini mata!!!
Lihat itu sang surya,
Tak lagi besinar gagah ia, Aku rindu teriknya!!!
Sekarang memerah buram, marah dia!!!
Tak lagi tajam pengamatannya,
Tapi perih pengacuhannya...
Aku yang tertikam karenanya....
Ah iya, Bagaimana kalau kita pakai hukum rimba?
Yang membakar kita tangkap kita aniaya, kita bakar pula dia...
Biar tau dia perihnya rusa dalam rimba,
Berlari demi nyawa diantara api yang membara....
Biar tau dia sakinya,
Sesakit anak elang menjadi abu di bekas pucuk cemara...
Ah, tapi ini Indonesia...
hukum rimba punya yang kaya,
Duit yang bicara....
Yang ditangkap cecunguk tak berdaya...
Pembakar kaya, ongkang kaki dia!
Duduk di kursi cendana!!!
Lah kita,
ah sudah lah... siapa kita?
Cucian saja terjebak debu dia,
Apa lagi mata, memerah dia....
Langganan:
Postingan (Atom)